Sunday, March 11, 2007

Tanggapan Terhadap Paus Benedictus

Oleh, Buya A. A. Aru Bone


Tuesday, September 19, 2006

Temans, saya hanya ingin mencurahkan keresahan saya dengan menuliskannya di sini. Tapi sebelumnya saya memohon maaf, tidak mempunyai cukup waktu untuk menuliskan hal ini lebih serius, lantaran padatnya kesibukan saya beberapa hari ini.

Jujur saja, saya merasa ngeri membaca reaksi muslim seantero bumi menanggapi kutipan pernyataan Paus Benedictus XIV dalam kuliah umumnya di Universitas Regensburg, Jerman, Selasa pekan lalu.


Dalam pidatonya, Paus mengutip dokumen dari Theodore Khoury tentang sebuah dialog di Angkara, Turki, tahun 1391, antara Kaisar Byzantium Manuel II Paleologus dan seorang intelektual Musilm asal Persia (sekarang Iran-Iraq).


Pernyataan Manuel II yang dikutip Paus itu kira-kira, “Tunjukkan kepadaku apa kabar baru yang dibawa Muhammad, dan kalian akan menjumpai hal-hal yang tidak manusiawi, sebagaimana perintahnya menyebarkan dengan pedang agama yang dipeluknya”. Kutipan inilah yang membangkitkan kemarahan para pemimpin agama dan politik negara-negara muslim.


Hingga akhirnya, Paus sendiri harus muncul dari balkon kamarnya di Kastil Gandolfo, Roma, Italia. Dalam kesempatan itu, beliau kembali menyatakan penyesalannya karena telah mengutip pernyataan tersebut. Selain menegaskan bahwa beliau tidak berniat menghina Islam, Paus juga membuka pintu dialog antar Katolik-Islam.

Reaksi emosional umat dan pemimpin Islam dalam kasus ini, mengingatkan saya pada kasus karikatur Nabi Muhammad di harian Denmark, Jylland Posten.
Seperti yang disampaikan rekan kami Nadhirsyah Hosein Ph.D di mailinglist alumni IAIN/UIN, “Bahwa Paus Benedictus –yang bernama asli Joseph Ratzinger- adalah orang pintar. Beliau adalah profesor Theology. Beliau tentu paham bahwa dalam tradisi akademik, kutipan tidak hanya sekedar kutipan. Tentu ada tujuannya kita mengutip opini orang lain…... Namun saya bisa merasakan nuansa ‘fundamentalis’ dalam pidato Paus dan kutipan tsb sama sekali tidak membantu ummat manusia untuk hidup dalam damai,” demikian kata Nadhir.


Dalam batas-batas tertentu saya sepakat dengan Nadhirsyah. Tapi temans, bagi saya pernyataan yang dikutip Paus, bahwa Islam disebarkan dengan pedang, tidak salah meski tidak dapat dibenarkan.


Semua orang yang mau jujur membaca sejarah perkembangan dan penyebaran Islam setelah wafatnya Baginda Nabi, pasti tidak menyalahkan kutipan Paus tersebut. Meski tidak pula membenarkannya.


Adalah tidak tepat jika pernyataan yang dikutip Paus itu merujuk pada sejumlah peperangan yang dilakukan Nabi Muhammad, lantaran berbagai peperangan itu harus dipahami dalam konteks membela diri dari serangan kaum kafir Mekkah.

Tapi, pernyataan yang dikutip Paus tersebut memiliki pijakan sejarah, terutama sejak Islam dipimpin para al-Khulafa al-Rasyidun, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, terutama pada abad pertama dan kedua hijriah, agama Islam yang pada masa itu menyatu dengan negara (konsep al-Islam hiya al-din wa al-daulah) memang disebarkan keluar Jazirah Arab dengan pedang (baca: kekuatan militer). Invasi besar-besar wilayah kekuasaan kekhilafaan Islam di masa-masa itu, tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan ajaran agama Islam.


Saya tidak mempunyai cukup waktu untuk membuka-buka dan merujuk langsung ke sejumlah referensi yang pernah saya pelajari. Karena itu saya memohon maaf, lantaran alasan kesibukan yang sudah saya sebut di atas, saya tidak bisa menyebutkan tahapan invasi itu secara lebih detil.


Tapi saya berusaha memberi gambaran sekilas berdasarkan apa yang masih tersisa di kepala saya. Kita mulai dari kekhalifahan pertama Islam yang dipimpin Abu Bakr as-Shiddiq. Bahwa sejak Nabi meninggalkan, banyak juga kelompok-kelompok tertentu yang murtad atau keluar dari Islam. Diduga kuat, kelompok ini masuk Islam saat Nabi hidup, lantaran alasan keamanan.



Nah, sesaat setelah Nabi wafat, mereka pun meninggalkan Islam, ada juga yang menolak membayar zakat. Oleh Abu Bakar kelompok ini diperangi, dibunuh jika melawan atau diampuni jika kembali memeluk Islam. Lalu pada masa khalifah kedua, Umar Ibn al-Khattab, setelah berhasil menciptakan stabilitas sosial politik di jazirah Arab, Umar segera melakukan invasi besar-besaran ke luar jazirah Saudi Arabia. Umar merebut wilayah Persia (Iraq-Iran), Yaman, Palestina, Damaskus, Mesir, etc.

Pendek kata, dengan kekuatan militernya, pada masa Umar wilayah pemerintahan Islam telah membentang ke semua wilayah yang kini kita kenal dengan sebutan wilayah Timur Tengah. Semua wilayah tersebut, sebelumnya dikuasai oleh kekaisaran Katolik Roma, Bizantium. Dengan alasan politik internal, Umar terbunuh saat memimpin sholat shubuh berjamaah.

Tapi saya langsung melompat, tidak mau membicarakan masa kekhilafaan Usman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Tholib, lantaran pada masa ini tidak ada usaha memperluas wilayah kekuasaan Islam. Di kedua masa kekhalifaan ini, energi lebih banyak digunakan untuk meredam konflik internal dalam dunia Islam saat itu. Sejarah menyebut berbagai perselisihan dan peristiwa berdarah dalam dua masa kekhalifaan ini sebagai al-fitnah al-kubra (fitnah besar).


Kita melompat ke masa kekhalifaan Bani Umawiyah. Kekhalifaan ini terbentuk dengan naiknya sahabat Nabi, Muawiyah Ibn Abi Sofyan ke tumpuk pimpinan kekuasaan. Setelah berhasil menciptakan stabilitas politik, Muawiyah kembali meneruskan usaha memperluas wilayah kekuasaan Islam.


Usaha yang sama diteruskan oleh puteranya, Yazid Ibn Mu’awiyah. Di kepemimpinan Muawiyah dan Yazid, Islam berhasil menguasai Lembah Hindustan (Pakistan-India). Ekspansi Islam juga mulai dilakukan ke Eropa dengan pintu masuknya Spanyol. Kekuatan militer Islam menaklukkan Andalusia dengan perang yang sangat dahsyat. Pasukan luar biasa kuat itu dipimpin seorang panglima hebat bernama Thariq bin Ziyad. Untuk sampai ke daratan Andalusia, armada kapal perang militer muslim menyeberangi sebuah selat yang kini dinamakan Giblaltar. Dari sinilah kontak militer kaum muslimin dengan kekuasaan politik kaum Katholik mulai tercipta.


Pendek kata saya ingin mengatakan, bahwa adalah karena invasi militer seperti yang saya gambarkan sepintas di atas lah, dalam kurun waktu sekitar 85 tahun sejak wafatnya baginda Nabi Muhammad, Islam yang tadinya hanya mencakup Mekkah dan Yastrib (Madinah), berhasil dibentangkan ke seluruh Timur Tengah, Persia, sebagian Afrika, India-Pakistan, hingga pintu masuk Eropa (menguasai Spanyol). Hal ini hanya mungkin dilakukan karena bantuan invasi militer. Dalam konteks inilah saya mengatakan, pernyataan yang dikutip Paus tersebut tidak salah lantaran memiliki pijakan fakta sejarah.

Meski demikian, bagi saya pernyataan Paus tersebut tidak dapat dibenarkan.
Alasan-alasannya, pertama, bahwa memang benar invasi militer yang saya gambarkan di atas itu bertujuan menyebarkan agama Islam. Tapi harus juga segera dilanjutkan, bahwa pada semua wilayah yang baru dikuasainya, kaum muslimin tidak memaksa penduduk lokal (penduduk setempat) memeluk Islam.

Malah para pemimpin muslim mengingatkan dan memerintahkan pasukannya untuk tidak membunuh dan menyakiti fisik, kehormatan, harta-benda, dan kepercayaan penduduk sipil, anak-anak, menghormati wanita, jangan merebut dan membakar tempat tinggal penduduk, tempat-tempat ibadah, bahkan dilarang menebang atau merusak pohon dan tanaman. Semua ini dipatuhi sepenuhnya oleh pasukan muslimin, karena demikian Yang Mulia Baginda Nabi mengajarkan mereka. Semua dicatat dengan baik oleh sejarah, karena demikian ajaran Islam mengajarkannya.

Sekadar contoh, apakah Sri Paus lupa dengan yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab saat Umar dan belasan ribu balatentaranya menginvasi Palestina yang saat itu dikuasasi Bizantium. Umar dan balatentaranya memasuki Yerussalem dengan senjata tersarung, tanpa ada setetes darah penduduk setempat yang tumpah ke bumi, tanpa ada selembar nyawa lepas dari badan, tanpa ada satu pohon tumbang, tanpa kebencian dan bentakan.....

Saat tiba di anak tangga gereja tempat Yesus Kristus (Nabi Isa) lahir, Umar turun dari tunggangannya, ia disambut hangat Uskup Agung setempat.

Saat itu memasuki waktu Sholat Ashar. Kepada Sang Uskup Agung, Umar bertanya di mana tempat yang bisa ia jadikan lokasi sholat. Sang Uskup Agung mempersilahkan Umar Sholat di tangga atas gereja bersejarah yang disakralkan umat Kristiani itu. Mendapat tawaran itu, Umar tersenyum lalu berkata, “Kalau aku melakukan sholat di tempat ini, aku khawatir kaum muslimin sesudah ku akan menjadikan gereja ini sebagai mesjid. Aku tidak ingin itu terjadi...” Mendengar perkataan itu Sang Uskup Agung tertegun, rasa persahabatan dan penghormatannya kepada Sang Khalifah bertambah.

Sesaat kemudian, bersama sejumlah pasukannya Umar membersihkan sepetak tanah yang biasa dijadikan tempat pembuangan sampah yang letaknya tak jauh dari gereja. Setelah membersihkan lokasi itu, ia dan pasukannya melakukan sholat disana.

Pada masa selanjutnya, Khalifah Malik Ibn Marwar (penguasa ketiga Dinasti Umawiyah yang naik ke tumpuk kekuasaan setelah Yazid Ibn Muawiyah) mendirikan Mesjid Bait al-Maqdis atau Mesjid Al-Aqsa. Penyempurnaan pembangunan mesjid ini diteruskan puteranya, Khalifah Khalik Ibn Malik, diantaranya dengan memasang kubah emas di atap mesjid.

Bisakah saudara-saudara ku kaum Kristiani bayangkan, apa yang akan terjadi dengan gereja yang kita muliakan itu jika Klahifah Umar mengikuti saran Uskup Agung untuk sholat disana? Tentu saja gereja tempat lahir Yesus yang sama-sama kita hormati tersebut punah sejak saat itu jika Umar Ibn Khattab menuruti tawaran Sang Uskup Agung.

Poin saya, pernyataan Kaisar Byzantium Manuel II yang dikutip Sri Paus tersebut, saya rasa berangkat dari pemahaman yang tidak utuh terhadap sejarah penyebaran Islam.

Alasan kedua, dalam konteks geopolitik internasional saat ini yang meniscayakan dialog Timur-Barat, Islam-Kristen, pernyataan yang dikutip Paus tersebut sangat kontraproduktif. Kutipan tersebut sama sekali tidak mendorong kedamaian kehidupan antara umat beragama. Sebagai pemimpin tertinggi umat Katholik dunia, hendaknya beliau lebih berhati-hati dalam mengucapkan pernyataan, apalagi jika sangat perpotensi menyinggung umat beragama lain.


Saya memahami jika beliau melakukan kekhilafan yang mungkin juga disebabkan kurangnya informasi yang beliau serap tentang Islam. Kita harus memaafkan, karena demikian yang diajarkan Islam. Lalu hubungan baik yang berlandaskan rasa saling menghormati, harus terus kita tingkatkan antara umat beragama.

Lalu jujur saja, saya tidak sedih dengan pernyataan Paus, tapi saya sedih mencermati reaksi emosional kaum muslimin dan sejumlah pemimpin politik dan keagamaan Islam di berbagai penjuru dunia dalam kasus ini maupun kasus karikatur Nabi Muhammad di harian Denmark, Jylland Posten.


Mengapa setelah Paus akhirnya meminta maaf, sejumlah tokoh muslim masih juga melontarkan ancaman. Diantara yang membuat saya sedih, adalah pernyataan seorang pemimpin muslim Somalia. Sheikh Abubakar Hassan Malin, ulama terpandang di Mogadishu, Somalia.


Dia menyerukan memburu Paus. "Siapapun yang menghina Nabi Muhammad patut dihukum mati," katanya. Dia menambahkan, pernyataan Paus di Jerman itu "barbar." Sejumlah negara seperti Yaman dan Maroko menarik duta besarnya dari Vatikan. Di Nablus, Tepi Barat, Sabtu lalu, dua gereja terbakar akibat ledakan granat. Sekelompok orang yang mengaku "Singa Monoteisme" mengatakan serangan itu reaksi terhadap pernyataan Paus (tempointeraktif.com, Senin, 18 September 2006)

Mengapa bisa seberingas itu? Saya rasa, reaksi emosional kaum muslimin tersebut disebabkan oleh pemahaman keagamaan yang cenderung fundamentalistik, skripturalistik dan tidak utuh. Reaksi seperti ini merupakan pembenaran faktual terhadap pernyataan yang dikutip Paus tersebut.


Kenapa dalam kasus ini, tampak jelas, para pemimpin agama Katolik dunia jauh lebih bijak daripada para pemimpin (keagamaan) muslim. Akan tampak lebih jelas lagi jika Anda membandingkannya dengan reaksi umat dan para pemimpin Katholik terhadap film dan novel The Davinci Code. Lihatlah, bagaimana dewasanya saudara-saudara kita Umat Kristiani menyikapi pandangan keliru tentang agama mereka yang digambarkan dalam novel dan film tersebut.


Bukankah dalam kehidupannya, Baginda Nabi Muhammad telah mencontohkan bagaimana reaksi yang baik menanggapi berbagai tudingan keliru tentang agama ini?
Yang kita hadapi ini tidak ada seujung tahi kukunya dengan yang dihadapi Nabi. Diludahin, dilontarin kotoran unta, mau dibunuh berulangkali, Nabi tersenyum, gampang memberi maaf bahkan sebelum yang bersalah meminta maaf, mendo'akan kebaikan, berbuat baik pada yang salah, menjelaskan dengan cara yang baik. Bukankah Kitab Suci Al-Qur’an yang kita baca tiap hari itu, menuntun kita dengan mengatakan, “Ajaklah ke jalan Tuhan mu dengan kebijaksanaan (hikmah) dan teladan yang baik, (jika mereka berdebat) maka debatlah mereka dengan cara-cara yang baik.”

Anehnya sebagian umat Islam, berteriak membela Tuhan, agama dan Nabi mereka, tapi dengan cara-cara yang dibenci Tuhan, agama dan Nabi mereka. Tampaknya benar, keimanan yang tidak disertai ilmu yang memadai, cenderung membawa kecelakaan dan fanatisme buta. Dalam kasus ini, selain disebabkan pemahaman keislaman yang skriptralistik-fundamentalistik, reaksi emosional tersebut juga disebabkan ketidakmenyeluruhan pemahaman sejarah Islam oleh pemeluknya sendiri.

Sekali lagi saya mohon maaf, jika saya tidak merinci data-data sejarah yang saya sebutkan dalam coretan ini, lantaran saya menuliskan mengalir aja dari kepala saya saat menuliskan ini. Tapi jika ada diantara pembaca yang ingin mengetahui rinciannya, insyallah saya bisa membantu jika ada cukup waktu. Semoga yang sedikit ini bermanfaat ya…. Wallahu a’lam bi ashowab



Salam,
Buya A.A. Aru Bone

Ciputat, Rabu, 19 September 2006, pukul 02.00 dinihari WIB

No comments: